Surat Untuk Jodohku

Untukmu, Perempuanku,,,,
Wherever You are.

Aku berharap dirimu selalu sehat dan tak kurang sesuatupun. Aku yakin dirimu disana masih menantiku. Teruslah kau menanti hingga aku datang menjemputmu untuk kita jalani hidup bersama.

Rinduku, kini telah menuntun hatiku untuk mencarimu. Anganku selalu mencoba untuk melukiskan raut wajahmu yang berhias seulas senyum, namun semua sirna bersama gelapnya malam.

Ingin aku memanggil sebuah nama, nama yang telah dituliskan dalam sebuah kitab bernama Lauhul Mahfudz. Namun saat ini aku belum mengenal nama itu, namamu, perempuanku, jodohku.

Kalau boleh tahu, kamu sekarang ada dimana?. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku belum jua menemui dirimu. Apa mungkin kamu adalah seseorang yang sudah aku kenali? Namun Allah belum megabarkannya kepada kita, jika kita berjodoh? Ya , kita. Aku dan kamu, hatiku dan hatimu.

Aku ingin menemuimu di saat yang tepat, saat kau telah siap untuk menjalani hidup bersamaku. Karna dalam pencarianku, aku juga tangah mempersiapkan banyak hal untukmu, untukku, untuk kita.

Perempuanku, do’akan aku, do’akan aku agar aku dapati jalan untuk menemukanmu. Do’akan aku agar aku dapat malihat wajahmu, mengenalmu, mencintaimu, dan meraih hatimu. Aku ingin pertemuan kita kelak, menjadi sebuah kenangan yang indah. Kenangan yang tak terlupakan, dan aku ingin mengabadikannya dalam kata kita, bersamamu. Aku dan kamu menuliskan kisah kita, agar seluruh dunia tahu.

Akulah lelaki yang kelak menjadi imammu, membimbingmu, dan menuntunmu agar kita dapat menjalani kehidupan kita dengan indah. Sayang, keindahan itu pasti akan tercipta jika kita bisa saling mengerti, saling memahami, dan saling berbagi. Semua itu pasti bisa kita raih, karna dirimu menggenggam erat separuh jiwaku, sebagaimana aku memeluk hatimu.

Perempuanku, sementara aku mencarimu. Belajarlah banyak hal, belajarlah tentang cinta dan kasih sayang, belajarlah untuk mengerti dan memahami, belajarlah untuk memberi dan berbagi, karna kelak jika kamu sudah hidup bersamaku, kamu harus melakukan banyak hal, sayang. Kamu akan menjadi pelengkap bagi jiwaku, kamu adalah ibu dari anak-anakku, anak-anak yang lahir dari rahimmu, anak kita sayang.

Aku tidak mengharapkan dirimu menjadi seseorang yang sempurna, karna aku sadar, tak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan itu adalah ketika kita, aku dan kamu, dapat saling melengkapi, saat aku lemah aku ingin kau menjadi penguat bagiku. Saat aku jatuh terpuruk, aku ingin kau menjadi penyemangat bagiku, dan ketika aku bahagia, aku ingin kau selalu ada disampingku. Karna bahagiaku adalah bersamamu.

Berjanjilah sayang, berjanjilah kita akan selalu bersama. Walau kita berbeda, kita masih tetap bisa bersama seperti pelangi kan? Yang dapat menjadikan perbedaan itu indah. Kita bisa kan menjadi seperti senjanya hari yang indah dan teduh, menyejukkan. Tapi aku yakin, senja kita akan lebih indah daripada senjanya hari.

Perempuanku, yang kini tengah mengharapkan kedatanganku, sebagaimana aku berharap untuk berjumpa denganmu. Yakinlah aku pasti akan menemuimu pada waktu yang tepat.

 

                                                           Salam penuh Cinta

 

                                                               Aku, Lelakimu.

Tegarlah Adinda [Part II]

“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
Begitulah kemudian waktu yang kami lalui, selalu penuh petentangan. Aku tak ingin dia menyesal kemudian, karena telah mengecewakan orang tuanya demi egonya. Aku tahu dia sakit, tapi aku berharap rasa sakitnya dapat mendewasakannya.
Sudah beberapa minggu aku tidak membuat ponselnya berdering, walau hanya dengan sebuah pesan. Sms yang dia tujukan untukku, sering juga aku abaikan. Jika terpaksa harus bertemu, aku tak mau berlama-lama bersama dia.
Hal itu terus aku lakukan sampai waktu menempatkan aku diantara banyak orang, semua berpakaian rapih seperti halnya aku. Aku mengenal sebagian dari mereka, terutama sosok wanita yang mengenakan pakaian adat jawa. Wanita yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang juga mengenakan pakaian adat jawa di hadapan kami. Wanita itu adalah dia, ya, dia. Hari itu adalah hari pernikahannya.
Pada hari itu, dia, raganya duduk di disinggasana bersama suaminya, tetapi tidak hati dan pikirannya. Sesekali matanya menatapku dengan senyuman yang tertahan, pandangannya mengatakan “seharusnya kamu yang duduk disini bersamaku, mas”
“Mengertilah, seorang lelaki sejati tidak akan meminang seorang wanita yang telah dipinang oleh lelaki lain”. Aku mencoba menegaskan kembali prinsip yang selama ini aku anut, melalui tatapan mataku dengan seulas senyuman.
Pandangan kami bertemu pada satu titik. Titik itu seolah menjadi satu ruang yang hening, didalam ruang itu hanya ada aku dan dia, saling berbicara.
“Aku gak bisa ngelupain mas”
“Terimalah dengan ikhlas, semoga kamu bisa bahagia bersama dia, suamimu. Bukan aku”
Aku tahu dia belum bisa untuk sepenuhnya menerima kenyataan ini. Tapi dia akan berusaha, dia mulai mengumpulkan energi positif yang tercecer. Dia sedang mencoba untuk terlihat tegar dan bahagia di hadapanku, juga di hadapan semua orang. Aku dapat melihat itu dari matanya, mata yang sembab dan agak memerah. Mata yang terus menangis dan hampir tidak tidur semalam sebelum hari pernikahannya.
Malam itu adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya yang tulus mencintaiku, namun terluka oleh waktu. Walau terpisah jarak dan keadaan, namun aku tak ingin menyiakan waktu yang hanya tinggal sebentar saja. Karna pada hari berikutnya, dia adalah miliknya, suaminya.
“Halo” Suara lirih menyapa dari ujung sana dan menyusup melalui speaker ponselku yang men-dial ponselnya beberapa detik sebelumnya.
“Halo, lagi ngapa dek?, Sudah siap kan buat besok?” pertanyaan basi yang seharusnya tidak aku lontarkan. Karna sebenarnya aku tahu dari suaranya, dia sedang menangis malam itu.
“Aku lagi nangis mas”
“Menangislah, kalo itu bisa membuatmu lega” Aku tidak melarang dia untuk menangis, pun tidak memintanya untuk berhenti menangis.
“Sudah siap kan buat besok?” kembali aku bertanya dengan nada yang datar.
“Enggak tau, mas. Mungkin aku siap kalo mas gak ada didepanku saat akad nikah, mas”
“Baiklah, besok mas gak akan dateng”
“Enggak mas, mas harus dateng besok. Dedek kuat kok, Dedek bisa”
“Yakin?”
“Insya Allah, dedek bisa, mas. Mas do’ain aja ya buat aku. Aku pengen jadi adek Mas yang tegar!. Mas, janji besok dateng ya, pas akad nikah dedek”. Akhirnya dia mengatakan itu meski dengan terbata, dia tengah bangkit dari keterpurukan. Dan itu membuat aku tersenyum karna dia telah berusaha untuk menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa dia adalah calon istrinya, dan aku adalah sahabatnya dan dia berusaha menganggap aku sebagi kakaknya, bukan calon suaminya.
“Do’a mas bersamamu” aku terus menyemangatinya. “Insya Allah besok, mas ada”
“Ma’afin dedek mas, ma’af dedek  udah mencintai mas. Dedek bakal berusaha untuk ngilangin rasa cinta ini, sampe akhirnya Tuhan gak ngijinin rasa ini bersemayam di hati dedek”.
“Ya, aku tau kok,,,, tapi rasanya gak perlu untuk ngilangin rasa cinta itu. Yang perlu, kamu harus mencintai dengan benar. Mas yakin, kamu gak akan sakit karna cinta”.
“…”
“Mencintai dengan benar itu, pertama mencintai Allah melebihi apapun, kemudian mencintai Rasulullah dan para pewarisnya, mencintai ibumu, mencintai bapakmu, serta keluargamu. Barulah mencintai yang lain”
“Mas, bisa ngomong aku gak akan sakit karna cinta. Mas gak rasain apa yang aku rasain kan?, mas,…”.
“Mas tau apa yang kamu rasain sekarang. Karna mas juga pernah ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Kemudian, mas bisa belajar untuk mencintai dengan benar”
“Mas pernah rasain apa yang aku rasain sekarang?’ dan mas bisa lewati semua?. Ku yakin, Aku juga bisa!
“Optimis! Kamu pasti bisa. Makna cinta itu luas, sehingga kadang sulit bagi kita untuk memahaminya. Maka tempatkanlah ia dimana seharusnya ia berada”
“Ya, makasih ya mas, udah mau kasih semangat buat aku untuk bisa lewati semua ini. Seharusnya aku nyadar, orang yang ada dalam hatiku bukan jodohku”.
“Maka berilah ruang untuk yang lain. Senyum dong” Walau aku tidak bisa melihat senyumnya, tapi aku yakin senyuman itu akan memberinya energi positif untuk menghadapi kenyataan ini.
“Ya, pengennya senyum mas. Udah deh aku gak mau nangis lagi”.
Dan aku baru bisa melihat senyumnya di hari berikutnya walau masih tertahan.

 

====================

sumber gambar: metrotvnews.com

Tegarlah Adinda [Part I]

Aku melihat dia merasa begitu nyaman bersamaku, begitu juga aku selalu menjadi diri sendiri ketika bersamanya.
Meski aku dan dia memiliki kepribadian yang berbeda, pemikiran yang berbeda, pandangan yang berbeda. Bahkan aku dan dia menempatkan cinta pada perspektif yang berbeda.
Dan hari yang terus berganti, minggu yang berlalu, dan waktu yang terus berjalan bersama aku dan dia, membuat hubungan kami semakin dekat dan sangat erat, hingga meski jarak memisahkan aku dan dia namun waktu tak lagi mampu memisahkan hatiku dan hatinya.
Akulah orang yang akan membuatnya tersenyum ketika dia sedih, hingga dia bisa tertawa bahagia. Aku adalah teman ketika dia merasa sepi. Aku…… Aku adalah orang yang beruntung telah mengenal dia.
Sedangkan dia, dia adalah orang yang selalu “mengganggu” tidurku ketika fajar menantikan mentari. Dialah yang selalu mengingatkanku untuk “Menghadap” ketika tiba masanya. Dia…… Dan dialah wanita yang memberi perhatian padaku, bahkan melebihi pacarku.
Awalnya aku dan dia hanya berbalas sms untuk saling menyapa. Kemudian sering aku menelponnya, terkadang juga dia yang rela menghubungiku hanya untuk berbalas canda, hingga aku dan dia dapat tertawa bersama, meski aku dan dia berada di tempat yang berbeda.
Ternyata perbedaan bisa menjadi terlalu indah, seperti halnya aku dan dia. Tapi perbedaan juga bisa menggalaukan dua hati yang saling berpadu, menyakiti hati yang sedang berbunga, ketika perbedaan itu berada pada waktu yang tak seharusnya.
Seperti saat hatinya di kuasai ego dan perasaan, namun aku mempertahankan prinsip dan logika. Saat dia menginginkan aku untuk menjadi lebih dari sekedar teman, atau sahabat, namun aku tak mengijinkan karena waktu dan keadaan.
Saat itu percakapanku dan dia, tak lagi sekedar tegur sapa. Namun hati dan seisinya tumpah didalamnya, hingga percakapanku dan dia menjadi penuh makna, karna tak hanya sekedar canda dan tawa namun juga luka dan air mata.
“Mas, gimana mas ama pacar mas?” Sering pertanyaan itu dia lontarkan di sela percakapan kami.
“Gak ada masalah, kita baik-baik aja kok” Itu jawaban yang selalu aku berikan, karena tak mau memberinya harapan. Agar dia tetap mencintaiku sebagai seorang sahabat. Hingga hubunganku dan dia tetap indah dan penuh warna seperti pelangi. Dan hubungannya dengan tunangannya, tetap baik-baik saja.
“Gimana kabar mamasnya dek?, baik-baik aja kan?, masih sering telpon kan?”, demikian, kadang aku terpancing untuk menanyakan hubungan dia dan tunangannya yang juga terpisah jarak, sebagaimana aku dan dia.
Saat itulah dia mulai bermanja, mencurahkan segala isi hatinya, hingga aku dan dia harus bermain dengan ego, memperdebatkan realita, dan aku tetap bertahan dengan prinsip. Aku “dituntut” untuk lebih dewasa, membimbingnya, dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Mungkin karena kalian jauh, dalam hubungan, kita harus saling percaya, dan satu lagi, keep connecting. Percayalah, ini cuma ujian buat hubungan kalian, untuk mendewasakan kalian. Mas yakin, kalian bisa lewatin ini semua,” Begitu aku coba meyakinkan dia, bahwa semua hal negatif yang dia utarakan tentang hubungannnya dengan tunangannya hanyalah sekedar kekhawatiran belaka. Kemudian dia dapat menganggapku hanyalah sahabatnya.
Namun ego dan perasaannya yang berskongkol telah menancapkan rasa cinta yang begitu dalam di hatinya bahkan mampu mengalahkan logika dan menentang realita.
“Tau gak sih mas?, aku tuh sakit kalo lihat mas ama pacar mas”.
“Kita gak akan sakit, kalo kita mencintai dengan benar”.
“Aku sudah menitipkan cinta ini pada seseorang, mas”.
Aku paham, yang dia maksud dengan ‘seseorang’ itu adalah aku.
“Mas sudah putus ama pacar mas, dek…”, mungkin kalimat itu yang berharap dia dengar dari mulutku.
“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
… [continued]

===================================
sumber gambar: webku76.blogspot.com

Biarlah

Biarkan hujan bergemuruh
Biarkan halilintar menggelegar
Bersama petir yang menyambar
Biar saja pelangi menghitam
Dan hari-hari menjadi suram
Biar semua hancur
Luluh lantak bersama kepingan hatiku yang terserak

Mungkin malam tak lagi sunyi ketika aku sendiri
Karena gundah selalu hinggap dalam hatiku

Tapi dunia belum berakhir
Kan ku tata kembali langkah yang telah terseok
Biar ku himpun serpihan hatiku yang terhempas begitu dalam
Walau sulit tetap haru kujalani hidup ini
Walau tanpa dirimu lagi

Biarlah kan kunikmati waktuku sendiri
Biarkan aku menikmati malam sunyi
Biarkan aku bersimpuh dalam hening
Biarlah sepi sendiri
Biarlah rindu menanti
Biarlah cinta bersemayam dihati
Biarlah…
Biarlah.

=======================

Sumber Gambar: lolypopshop.blogspot.com

Munajat Sang “Pungguk yang Merindukan Bulan”

Aku memang tak sempurna,
Jiwaku mungkin terluka oleh dosa,
Qalbuku keruh dalam gemuruh langkah tak terarah,
Dalam pendangan kelam tak bertujuan, pada setiap hela napas yang terlewatkan

Walau sudah terlalu dalam aku tenggelam, terjerembab dalam lembah hitam nan kelam
Tapi aku masih punya harapan, aku punya masa depan
Aku punya hak untuk menentukan setiap langkahku
Meski jiwaku terkoyak,
Walau Qalbuku  menghitam,

Aku merindukan secercah cahaya terang dalam gelapku,
Agar bisa membimbingku meniti langkah baruku,

Mungkin terlalu hina bagiku untuk meindukan dia,
Dia yang wajahnya selalu berseri,
Dia yang selalu terjaga di sepertiga malam,

Maka pantaskanlah aku yang hina untuk dia yang sempurna,
Duhai hening malam, bangkitkanlah ragaku pada  gelap dan sunyimu
Izinkan aku terjaga pada setiap sepertiga gelapmu
Biarkan aku bermunajat dalam dingin yang menusuk Qalbuku
Wahai fajar, usiklah aku dari lelapku
Kau mentari yang tengah meninggi, biarkan aku bersimpuh

Wahai ALLAH Tuhan ku, pijarkanlah cahaya dalam Qalbuku
Izinkan aku mencintainya karenaMU,
Tanamkanlah Rindu dalam hatinya untuk ku,
Pekenankan lah aku menjadi Imam bagi dia yang sempurna

ALLAH Tuhanku, Perkenankan permohonanku,

Aku memang tak sempurna,
Tapi aku akan berusaha,

=================

Sumber Gambar: harrymahathir.wordpress.com

Do’a Untuk ‘Dia’

Dalam hening ku menengadah, menundukkan wajah
Hanyut aku dalam dinginnya hembusan angin malam,
Tenggelam dalam lantunan do’a
Terjaga diantara jiwa-jiwa yang bergelayut diantara bintang yang berpijar,
Diantara raga-raga yang terbaring tak berdaya

Dalam Sujud ku meminta agar dia kan selalu terjaga,
Hingga suatu saat ku menemukannya
Ketika KAU izinkan bibirku untuk menyebutkan namanya,
Saat aku dapat memandang parasnya,
Menyentuh lembut jemarinya,
Dan menjadi Imam baginya

Sepi yang Tak Pernah Sepi

Sepi ,,,
Mungkin sepi  memang tak pernah ada,
Tapi sepi selalu saja terasa,
Saat aku sendiri,
Saat aku mencari,
Bahkan ketika aku berada ditengah keramaian,
Terkadang aku merasa sepi,

Sepi tak pernah ada,
Tapi sepi itu terasa,
Sepi bukanlah sunyi,
Sepi bukan dalam keheningan,
Ia bergemuruh didalam dada,
Mengoyak  jiwa,
Menghempaskan perasaan yang tak bertuan,
Sepi menggores kembali luka dalam qalbu,

Sepi tak pernah ada,
dan Sepi tak pernah sepi.

Sepi Gelisah

Ketika resah mengiringi setiap langkah,
Seakan aku berjalan tanpa arah,
Walau akhir ada dalam genggaman,
Namun hanya gelisah-lah yang pada akhirnya bertakhta,

Ingin ku teriak pada dunia,
memecah keheningan malam yang kelam,
Sekelam pandanganku yang seakan terhalang.
Namun semua itu sia-sia,
dan aku semakin terpuruk dalam kegelapan,
hitam,,,
kelam,,,
dan semua diam.

Ibu, Cintamu adalah Hidupku

Rasanya seperti tertampar-tampar ketika membaca status teman yang satu ini.

Kalimat yang sederhana tapi sungguh mengena. Membuat saya kembali merenungkan tentang apa yang sudah saya perbuat untuk ibunda tercinta. Aku sadar, apaun yang aku lakukan tidaklah mampu membalas cinta dan kasih sayangnya terhadapku, anaknya.
Dia hanya memberi, memberi dan memberi. Tak pernah sedikitpun beliau berharap akan mendapatkan imbalan. Memang ada yang Ibu harapkan dari ku, anaknya. Sebuah harapan yang sederhana, Ibu hanya berharap agar aku menjadi anak yang sukses, tak pernah ibu berharap agar aku dapat memberikan sesuatu kepadanya. KEBAHAGIAANKU, itulah HARAPAN IBUKU

Dari seberang sana terdengar suara lembutnya yang penuh kadih sayang. Aku ingin tahu kalau kabar beliau baik-baik saja. Ibu sehat dan dia tengah menjalani aktifitasnya, tak pernah lelah, meski usianya sudah memasuki kepala empat.
Ibu sangat mengkhawatirkan aku, beliau menanyakan segala hal tentang diriku. Satu hal yang akan membuatnya tenang adalah ketika Ibu tahu bahwa aku dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Itu hanyalah sebagian kecil ungkapan kasih sayangnya.
Ibu, ma’afkan aku jika belum bisa memenuhi harapanmu. Terimakasih atas segalanya. Cintamu adalah hidupku, kasih sayangmu mengalir dalam nadiku.

Hening dalam kerinduan

Di bawah naungan cahaya rembulan yang membelai bumi, katak-katak bernyanyi dengan bahasa yang tak dapat ku mengerti, meramaikan suasana memecah keheningan malam diantara jiwa-jiwa yang hanyut dalam mimpi. Di antara dinding-dinding yang membisu, aku terdiam dalam lamunan. Diantara katak-katak yang bernyanyi aku hanyut dalam keheningan. Didalam kesendirianku, ku merindukan seseorang…