Tegarlah Adinda [Part II]

“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
Begitulah kemudian waktu yang kami lalui, selalu penuh petentangan. Aku tak ingin dia menyesal kemudian, karena telah mengecewakan orang tuanya demi egonya. Aku tahu dia sakit, tapi aku berharap rasa sakitnya dapat mendewasakannya.
Sudah beberapa minggu aku tidak membuat ponselnya berdering, walau hanya dengan sebuah pesan. Sms yang dia tujukan untukku, sering juga aku abaikan. Jika terpaksa harus bertemu, aku tak mau berlama-lama bersama dia.
Hal itu terus aku lakukan sampai waktu menempatkan aku diantara banyak orang, semua berpakaian rapih seperti halnya aku. Aku mengenal sebagian dari mereka, terutama sosok wanita yang mengenakan pakaian adat jawa. Wanita yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang juga mengenakan pakaian adat jawa di hadapan kami. Wanita itu adalah dia, ya, dia. Hari itu adalah hari pernikahannya.
Pada hari itu, dia, raganya duduk di disinggasana bersama suaminya, tetapi tidak hati dan pikirannya. Sesekali matanya menatapku dengan senyuman yang tertahan, pandangannya mengatakan “seharusnya kamu yang duduk disini bersamaku, mas”
“Mengertilah, seorang lelaki sejati tidak akan meminang seorang wanita yang telah dipinang oleh lelaki lain”. Aku mencoba menegaskan kembali prinsip yang selama ini aku anut, melalui tatapan mataku dengan seulas senyuman.
Pandangan kami bertemu pada satu titik. Titik itu seolah menjadi satu ruang yang hening, didalam ruang itu hanya ada aku dan dia, saling berbicara.
“Aku gak bisa ngelupain mas”
“Terimalah dengan ikhlas, semoga kamu bisa bahagia bersama dia, suamimu. Bukan aku”
Aku tahu dia belum bisa untuk sepenuhnya menerima kenyataan ini. Tapi dia akan berusaha, dia mulai mengumpulkan energi positif yang tercecer. Dia sedang mencoba untuk terlihat tegar dan bahagia di hadapanku, juga di hadapan semua orang. Aku dapat melihat itu dari matanya, mata yang sembab dan agak memerah. Mata yang terus menangis dan hampir tidak tidur semalam sebelum hari pernikahannya.
Malam itu adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya yang tulus mencintaiku, namun terluka oleh waktu. Walau terpisah jarak dan keadaan, namun aku tak ingin menyiakan waktu yang hanya tinggal sebentar saja. Karna pada hari berikutnya, dia adalah miliknya, suaminya.
“Halo” Suara lirih menyapa dari ujung sana dan menyusup melalui speaker ponselku yang men-dial ponselnya beberapa detik sebelumnya.
“Halo, lagi ngapa dek?, Sudah siap kan buat besok?” pertanyaan basi yang seharusnya tidak aku lontarkan. Karna sebenarnya aku tahu dari suaranya, dia sedang menangis malam itu.
“Aku lagi nangis mas”
“Menangislah, kalo itu bisa membuatmu lega” Aku tidak melarang dia untuk menangis, pun tidak memintanya untuk berhenti menangis.
“Sudah siap kan buat besok?” kembali aku bertanya dengan nada yang datar.
“Enggak tau, mas. Mungkin aku siap kalo mas gak ada didepanku saat akad nikah, mas”
“Baiklah, besok mas gak akan dateng”
“Enggak mas, mas harus dateng besok. Dedek kuat kok, Dedek bisa”
“Yakin?”
“Insya Allah, dedek bisa, mas. Mas do’ain aja ya buat aku. Aku pengen jadi adek Mas yang tegar!. Mas, janji besok dateng ya, pas akad nikah dedek”. Akhirnya dia mengatakan itu meski dengan terbata, dia tengah bangkit dari keterpurukan. Dan itu membuat aku tersenyum karna dia telah berusaha untuk menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa dia adalah calon istrinya, dan aku adalah sahabatnya dan dia berusaha menganggap aku sebagi kakaknya, bukan calon suaminya.
“Do’a mas bersamamu” aku terus menyemangatinya. “Insya Allah besok, mas ada”
“Ma’afin dedek mas, ma’af dedek  udah mencintai mas. Dedek bakal berusaha untuk ngilangin rasa cinta ini, sampe akhirnya Tuhan gak ngijinin rasa ini bersemayam di hati dedek”.
“Ya, aku tau kok,,,, tapi rasanya gak perlu untuk ngilangin rasa cinta itu. Yang perlu, kamu harus mencintai dengan benar. Mas yakin, kamu gak akan sakit karna cinta”.
“…”
“Mencintai dengan benar itu, pertama mencintai Allah melebihi apapun, kemudian mencintai Rasulullah dan para pewarisnya, mencintai ibumu, mencintai bapakmu, serta keluargamu. Barulah mencintai yang lain”
“Mas, bisa ngomong aku gak akan sakit karna cinta. Mas gak rasain apa yang aku rasain kan?, mas,…”.
“Mas tau apa yang kamu rasain sekarang. Karna mas juga pernah ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Kemudian, mas bisa belajar untuk mencintai dengan benar”
“Mas pernah rasain apa yang aku rasain sekarang?’ dan mas bisa lewati semua?. Ku yakin, Aku juga bisa!
“Optimis! Kamu pasti bisa. Makna cinta itu luas, sehingga kadang sulit bagi kita untuk memahaminya. Maka tempatkanlah ia dimana seharusnya ia berada”
“Ya, makasih ya mas, udah mau kasih semangat buat aku untuk bisa lewati semua ini. Seharusnya aku nyadar, orang yang ada dalam hatiku bukan jodohku”.
“Maka berilah ruang untuk yang lain. Senyum dong” Walau aku tidak bisa melihat senyumnya, tapi aku yakin senyuman itu akan memberinya energi positif untuk menghadapi kenyataan ini.
“Ya, pengennya senyum mas. Udah deh aku gak mau nangis lagi”.
Dan aku baru bisa melihat senyumnya di hari berikutnya walau masih tertahan.

 

====================

sumber gambar: metrotvnews.com

Wish All The Best is Ours

Sungguh selasa yang bertenaga. Hujan dimana mana. Hari ini penuh dengan hujan. Aku suka hujan. Karena hujan memberi begitu banyak manfat dalam kehidupan. Kalau menurut orang China, hujan itu berhubungan dengan hoki atau keberuntungan. Semoga saja itu ada benarnya. Karna hari ini adalah hari yang sangat special untukku.
Hari ini aku mendapatkan sesuatu dan kehilangan secara bersamaan. Hari ini telah hilang jatahku menjalani usia ke-22, dan mendapati diriku harus memulai lembaran ke-23 kehidupanku.
Aku sangat bersyukur dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadaku selama ini. Aku bersyukur karna sampai saat ini aku masih bisa bersama dengan orang-orang tercinta, bersanding dengan bapak dan ibu serta adikku. Aku bersyukur karena kakakku dan keluarganya kini telah mandiri dan membuatku memiliki 2 orang keponakan yang cantik ?. Singkatnya, aku sangat bahagia karena masih memiliki sebuah keluarga, dan tidak ada yang lebih membahagiakan kecuali mendapati diriku serta orang orang yang ku cintai dalam keadaan sehat.
Aku sadar, masih banyak hal yang belum aku capai sampai saat ini. Banyak mimpi yang belum terwujud, tapi aku takkan berhenti bermimpi, karena dengan impian, hidup akan terasa lebih besemangat. Dan aku tak akan berhenti pada mimpi, tapi aku akan berusaha bangkit dan meraih mimpi-mimpi itu.
Salah satu impian terbesarku adalah membahagiakan ibu dan bapak. Aku sadar, seluruh dunia dan seisinya, tidaklah sepadan jika dibandingkan dengan kasih sayang dan cinta mereka buat ku, hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Tapi aku tahu, kebahagiaan mereka bukanlah materi. Kebahagiaan mereka adalah ketika melihat orang orang yang mereka cintai bahagia, kebahagiaan ibu dan bapak adalah ketika anak-anaknya bahagia, ketika anak-anaknya mendapatkan yang terbaik. Terimakasih untuk ketulusan cintamu ibu. Terimakasih untuk semua kasih sayangmu yang ikhlas bapak. Dan ma’afkanlah aku jika belum mampu untuk membuat kalian bahagia.
Ya Allah, anugerahkanlah cintamu pada ibu dan bapakku. Anugerahkanlah mereka kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak, Ya Allah.
Ya Allah, wujudkanlah mimpi-mimpiku jika itu baik untuku, baik untuk ibu dan bapakku, baik untuk keluargaku, baik untuk agamaku, baik untuk bangsa dan negaraku. Ya Allah, tunjukkanlah padaku jalan mana yang Engkau Ridhoi, karena aku ingin hidup dalam naungan Ridhomu. Anugerahkanlah kepadaku Hati yang ikhlas untuk menerima segala sesuatu yang telah Engkau tetapkan untukku. Anugerahkanlah kepada kami negeri yang damai, negeri yang bangsanya hidup rukun berdampingan dalam perbedaan, negeri yang Engkau Ridhoi. Amiin…

Lampung, 15 Maret 2011

Posted from WordPress for Android