Hari Pahlawan, Bukan (sekedar) Peringatan

Seremonial, seremonial, seremonial. Lagi dan lagi, seremonial hanyalah seremonial tanpa penghayatan, panjiwaan, dan niat tulus untuk menjadi lebih baik.
Dalam satu tahun, rasanya banyak banget seremonial-seremonial di kalender nasional Republik Indonesia. Mulai dari Tahun Baru, Peringatan Kemerdekaan, Sampai pada hari ini, 10 November yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan hingga nanti masih ada lagi seremonial-seremonial lain sampai pada Hari Ibu, Desember nanti.
Setiap tahun kita pasti melewati Hari-hari Peringatan itu. Seremonial lagi, seremonial lagi, lantas apakah ini buruk? (tidak juga sih). Berarti baik dong? (Relatif).
Jadi kalau kita mau jujur sebenarnya Hari-hari peringatan ini ngefek apa sih buat kita? (mari sejenak kita renungkan).
Kemungkinan besar pasti ada efek positifnya (setidaknya pada hari peringatan tersebut berlangsung). Artinya tidak ada yang buruk dengan Hari peringatan ini, jika demikian adanya. Namun yang kurang tepat dari sebuah perayaan adalah ketika seremonial itu diadakan secara berlebih namun hanya seremonial, tidak memberi pengaruh positif untuk jangka waktu yang panjang.
Peringatan-peringatan ini (seharusnya) bisa menjadi pengingat atau semacam dorongan bagi kita untuk terus berusaha menjadi lebih baik dan untuk Menjadi Bangsa yang Besar.
Mari kita jadikan setiap hari peringatan, benar benar menjadi pengingat bagi kita untuk menjadi lebih baik.
Hari ini 10 November, bersama sama kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Mari kita kenang lagi jasa para pahlawan kemerdekaan, renungkan sejenak untuk apa mereka berjuang. Perjuangan mereka adalah untuk meraih kemerdekaan, untuk menjadikan negeri ini negeri yang bermatabat. Jadi mari kita menjadi bangsa yang bermartabat dengan terus belajar dan menjadi lebih baik, dengan mberi menfaat bagi sesama kita.

Selamat Hari Pahlawan. 10 November 2012

Dia Takkan Tumbang Oleh Topan

Disuatu pagi yang cerah, diteras sebuah rumah (baca=kontrakan) aku duduk dibawah hangatnya sinar matahari yang mulai meninggi. Tenang, hangat, dan sanagat nikmat rasanya menikmatin pagi dengan caara seperti ini, ditambah lagi dengan berteman segelas the hangat yang perlahan membasahi tenggorokan, sungguh nikmat.


Aku meamandang pada rumput-rumput liar yang tumbuh dengan suburnya. Meski tak diinginkan, ia selalu saja muncul lagi dan lagi. Kemudian aku berfikir, ingin rassanya memiliki semangat yang tangguh seperti rumput-rumput liar itu dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Caranya hidup benar-benar memberikan pelajaran berharga jika kita kita mau berfikir tentangnya.
Meski keberadaan nya tidak banyak yang menginginkan, tapi dia selalu tetap dapat tumbuh dan bertaha hidup didalam siatuasi apapun. Bahkan ketika tumbuhan lain sangat sulit untuk bertahan hidup, dia masih bisa. Dimana dia tumbuh, jarang sekali dia meninggi, sehingga bila tertiup angin dia akan tampak indah, sehingga topan pun tak mampu untuk buatnya tumbang.
Memang keberadaan nya adalah ‘pengganggu’ bagi tanaman pangan milik kita. Tapi Jika kita mau melihatnya dari sisi positifnya, sesungguhnya keberadaannya member manfaat. Satu diantaranya adalah ketika kita (harus) meniadakannya, dia dapat dijadikan sebagai pakan begi binatang ternak.
Terkadang kita salah menilai sesuatu hanya dari melihat ppenampilannya saja, tanpa memperhatikannya (melihat, mempelajari, dan berfikir). Sungguh suatu perbedaan yang besar antara melihat dan memperhatikan. Oleh karenanya kita harus memiulai saat ini juga untuk selalu memperhatikan segala sesuatu yang ada. Bukan hanya sekedar melihat. Kita harus merubah cara kita melihat, menjadi cara memperhatikan sesuatu. Begitulah seharusnya kita belajar.

Kita dan Lingkungan

Gotong Royong Diambang ‘kepunahan’ ?
Selama ini yang aku denger, katanya masyarakat tuh susah kalo di ajak gotong royong. Jika diambil satu orang per kepala keluarga saja, mungkin tingkat partisipasi masyarakat hanya sekitar empat puluh atau limapuluh persen. Di era dewasa ini mungkin bukanlah sebuah keanehan, ketika masyarakat perlahan meninggalkan ‘budaya’ gotong royong. Gak hanya gotong royong, yang kini mulai ditinggalkan, bahkan kekayaan keragaman budaya Indonesia yang lainpun mulai berada di ambang kepunahan. Makanya kita baru ‘terbangun’ ketika budaya kita yang menjadi penghias nusantara dengan keanekaragamannya tiba-tiba di klaim oleh bangsa lain sebagai budaya asli milik mereka.
Kembali pada gotong royong yang saat ini ‘sudah tidak menarik’ lagi. Sebenarnya ‘reputasi’ gotong royong masih bisa kita selamatkan. Tentunya kita sama-sama tahu manfaat gotong royong, selain membuat lingkungan kita jadi bersih juga dapat meningkatkan kepekaan jiwa sosial kita melalului kebersamaan dan saling menghargai ketika kita bekerja bersama-sama (baca:gotong royong). Jika kita membiasakan diri bergotong royong, maka secara otomatis kita akan peka terhadap sesama, dan peduli akan lingkungan kita.

Butuh 2+1M untuk membudayakan kembali gotong royong?
Kalau mau jujur, gotong royong adalah satu kegiatan yang mengasyikkan, gimana enggak? Kerjaan yan gak sulit-sulit amat itu di kerjakan secara beramai ramai. Kalo lagi stress trus berangkat ‘jumat bersih’ dijamin pasti terhibur. Tapi kenapa kok susah gotong royog yah? Sebenarnya gak sulit kok, ini cuma tentang kebiasaan aja. Kalo gotong royong udah jadi kebiasaan, rasanya gak akan sulit kok untuk melangkahkan kaki kita, gak perlu disuruh-suruh ataupun dikomando lagi. Nah mulai saat ini juga kita harus menjadikan gotong royong sebagai kebiasaan kita dan masyarakat kita. Kalo buat ngajak-ngajak rasanya masih berat maka, mulailah dari diri sendiri, saat ini juga. Hanya butuh M, M dan M untuk menjadikan gotong royong menjadi kebiasaan kita dan masyarakat kita.

MAU, sudah menjadi sifat dasar manusia, memiliki kemauan dan keinginan. Mau ini dan Mau itu. Manusia adalah makhluk sosial, secara otomatis manusia selalu butuh untuk bersosial, bergaul, dan beradaptasi dengan manusia lain serta terhadap lingkungannya. Ini bisa menjadi dasar umtuk menjadikan gotong royong menjadi kebiasaan kita.

MALU, Rasa ini juga tidak dimiliki makhluk lain yang hidup berdampingan dengan manusia. Ya, hanya manusia yang punya rasa malu, namun kapasitasnya yang berbeda-beda. Gotong royong(baca:kegiatan sosial) adalah merupakan satu wadah untuk bersosial dan beradaptasi dengan manusia dan lingkungan, kaitannya dengan ini, seharusnya manusia merasa malu kalo sampe gak gotong royong, karena dia sudah melewatkan satu momen yang bagus banget, yaitu beradaptasi dengan manusia dan lingkungan secara bersamaan.

MULAI, dua dari banyak sifat-sifat baik manusia yang tersebut diatas rasanya sudah cukup sebagai dasar kita untuk memulai berpartisipasg dalam kegiatan gotong royong dan menjadikannya kebiasaan kita.
Jangan menunda untuk memulai, mulai saat ini juga. Bagaimana dengan yang lain? Kok gak mulai jua? Jangan dipikirkan mulailah dari diri sendiri, jadikan diri anda sebagai contoh mungkin mereka ‘malu dalam persepsi yang salah’ sehingga mereka ‘malu untuk memulai’, sehingga mereka butuh contoh, dengan adanya ‘contoh’ maka ini akan membuat mereka menempatkan rasa malu pada persepsi yang benar dan segera saja memulai melakukan gotong royong, dan menjadikannya sebagai kebiasaan.

Bangkitkan kesadaran masyarakat dengan lomba.

Serentak…!, Masyarakat desa Sukabakti melakukan gotong royong membersihkan jalan, memfungsikan kembali parit-parit yang tersumbat di sepanjang jalan Desa Sukabakti serta memanfaatkan lahan yang kosong disekitar pemukiman warga sebagai TOGA (Tanaman Obat Keluarga), dalam rangka Jum’at Bersih Yang (seharusnya) rutin di laksanakan ini. Selain untuk menindaklanjuti dan mensukseskan kegiatan lomba desa yang penilaiannya akan di laksanakan pada pertengahan maret mendatang, kegiatan rutin ini adalah untuk memecahkan masalah lingkungan. Ini adalah suatu bukti, bahwa dengan adanya kegiatan (lomba) ini kesadaran masyarakat (yang sama-sama kita tahu, dewasa ini sudah mulai pudar) sedikit demi sedikit sudah mulai bersemi kembali, hatinya terpanggil, dan jiwanya bangkit (setelah lama “tertidur”), raganya tergerak untuk bersama-sama menyadari dan menanggulangi apa-apa yang selama ini tak tertangani dengan baik. Unsur Pemerintahan Desa hendaknya memberi “pupuk” dan menambahkan “suplemen” terhadap kesadaran masyarakat yang sudah mulai bersemi dengan adanya lomba ini, dengan cara terus ‘meng-ayo-ayo’ dan memposisikan dirinya sebagai pelopor sehingga kesadaran masyarakat tersebut dapat tumbuh subur dan akar tunjangnya tertancap kuat dalam jiwa tiap-tiap individu, dan akar-akar serabutnya menjalar ke seluruh aliran darah.