#BahagiaItuSederhana : Syukur

#BahagiaItuSederhana.
Ketika kita mensyukuri semua pemberi TUHAN, adalah merupakan kebahagiaan yang tiada habisnya.
Kenapa? Karena ini sesuai dengan Janji ALLAH di dalam Al-Qur’an

“Lainsyakartum La’adzidanakum, Walainkafartum Inna Adzabilasyadiyd”
~ Siapa yang bersyukur atas nikmat-KU niscaya akan AKU tambah kenikmatan itu, Dan siapa saja yang Kufur (Ingkar) atas Nikmat yang telah AKU berikan maka sesungguhnya Adzab-KU sangat Pedih ~

{ Q.S Ibrahim:7 }

Jemparingan, memanggilku ke Yogyakarta

Mungkin ada yang belum tahu, apa itu jemparingan? Jemparingan merupakan salah satu kebudayaan yang ada di indonesia, atau kalau mau dimasukkan ke dalam kategori olahraga juga bisa ;-) . Jadi, Jemparingan itu merupakan olahraga Panahan Tradisional yang masih “hidup” di daerah Yogyakarta.

Olahraga Panahan tradisional ini hidup dalam komunitas-komunitas yang memang mau untuk melestarikan budaya-budaya tradisional yang kini mulai banyak ditinggalkan.

Di Yogyakarta salah satu komunitas yang masih bertahan melestarikan olahraga tradisional ini adalah “Paseduluran Jemparingan Mataram Jawi Langenastro” Yang rutin menggelar latihan setiap sorenya di lapangan alun-alun kidul, Jalan Langenarjan, Yogyakarta.

Saya sendiri mengenal jemparingan dari mas Hafiz yang beberapa saat lalu berkunjung ke Lampung untuk liputan kebudayaan di Lampung. Sebenarnya mas Hafiz tidak banyak cerita tentang Panahan Tradisional ini, beliau hanya menunjukkan fotonya yang tengah menteng gendewa (sebutan untuk Busur Panah Tradisional).

Ketika itu saya langsung kesemsem sama Panahan Tradisional alias Jemparingan ini :-) . Terbesitlah niat untuk bertandang ke Yogya dan menjajal Olahraga Panahan Tradisional ini.

Setelah sekian lamanya dapatlah saya kesempatan untuk melancong ke Yogyakarta bersama Yusuf, Sahabat Mas Nur dengan beraneka agenda dan salah satunya pastilah bersilaturahim ke teman-teman “Paseduluran Jemparingan Mataram Jawi Langenastro” dan langsung bersentuhan dengan Busur dan Anak Panahnya.

Waktu yang Tepat

Assalamu’alaykum…

Sudah lama sekali rasanya tak menjamah apalagi menulis di blog usang ini :-) , dan tak perlu melontarkan bermacam dalih untuk itu, hehe,,,.

Malam ini saya sempatkan menulis (baca=curhat :-) ). Selain ngeblog, ada tugas (suci) lainnya yang ikut terlantarkan lantaran padatnya kegiatan. Jadi saya saat ini tengah berada dalam kondisi seperti ini

“Gue kerja pulang malem terus, sampe gak pernah ngaji begini”

Kemudian kondisi seperti ini mengingatkan saya akan sebuah pesan Rasululloh kepada seorang Laki-laki yang artinya:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa pikunmu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa hidupmu sebelum kematianmu.” [HR Al Hakim. Hadits shahih]

Lima Perkara Sebelum Lima Perkara yang lain, dan ini semua berhubungan dengan masa (waktu). Lalu kapan Lima Masa itu adanya? Jawaban yang paling tepat adalaha SEKARANG.

Kita tidak pernah tahu bagaimana hari esok kita. Mungkin saat ini kita memiliki semuanya, tapi siapa yang tahu jika ternyata usia kita hanya tinggal hari ini?

Kaitannya masalah saya dengan hadits ini, sangat sederhana. Saya hanya kehilangan Satu saja dari Lima Perkara itu dan itu sudah membuat saya banyak kehilangan kesempatan. Saya hanya sedang tidak dalam masa Luang, itu saja.

Jadi, Waktu yang tepat untuk melakukan segala kebaikan, waktu yang tepat untuk memulai segala sesuatu, waktu yang tepat adalah sekarang. Bukan tadi, atau kemarin, karna kita tak akan pernah menjumpainya lagi. Dan bukan pula nanti ataupun esok, karena kitapun tak pernah tahu, akan sampaikah kita pada masa itu?

Intinya, mah. Jangan pernah melewatkan waktu dengan hal yang sia-sia. Jangan pernah melewatkan Waktu tanpa hal bermanfaat. Kita semua punya waktu yang sama, tapi kita selalu menghasilka sesuatu yang berbeda. Apa yang kita hasilkan bergantung pada apa yang kita kerjakan.

Itulah sedikit hikmah yang bisa diambil dari curhat masalah saya, semoga bermanfaat. Aamiin… Jika punya pendapat lain, monggo sharing disini :-)

Terimakasih, Wassalamu’alaykum…

Mutiara (yang) Diabaikan

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***

© Hak Cipta pada Penulis.
Disclaimer : Tulisan ini merupakan Artikel Copy Paste (CoPas) dari Halaman ini dengan bertujuan untuk berbagi. Jika ada pihak yang berkeberatan Tulisan ini di muat di blog ini, mohon untuk Menghubungi Saya agar bisa saya hapus atau revisi. Terimakasih.

Surat Untuk Jodohku

Untukmu, Perempuanku,,,,
Wherever You are.

Aku berharap dirimu selalu sehat dan tak kurang sesuatupun. Aku yakin dirimu disana masih menantiku. Teruslah kau menanti hingga aku datang menjemputmu untuk kita jalani hidup bersama.

Rinduku, kini telah menuntun hatiku untuk mencarimu. Anganku selalu mencoba untuk melukiskan raut wajahmu yang berhias seulas senyum, namun semua sirna bersama gelapnya malam.

Ingin aku memanggil sebuah nama, nama yang telah dituliskan dalam sebuah kitab bernama Lauhul Mahfudz. Namun saat ini aku belum mengenal nama itu, namamu, perempuanku, jodohku.

Kalau boleh tahu, kamu sekarang ada dimana?. Aku mencarimu kemana-mana. Tapi aku belum jua menemui dirimu. Apa mungkin kamu adalah seseorang yang sudah aku kenali? Namun Allah belum megabarkannya kepada kita, jika kita berjodoh? Ya , kita. Aku dan kamu, hatiku dan hatimu.

Aku ingin menemuimu di saat yang tepat, saat kau telah siap untuk menjalani hidup bersamaku. Karna dalam pencarianku, aku juga tangah mempersiapkan banyak hal untukmu, untukku, untuk kita.

Perempuanku, do’akan aku, do’akan aku agar aku dapati jalan untuk menemukanmu. Do’akan aku agar aku dapat malihat wajahmu, mengenalmu, mencintaimu, dan meraih hatimu. Aku ingin pertemuan kita kelak, menjadi sebuah kenangan yang indah. Kenangan yang tak terlupakan, dan aku ingin mengabadikannya dalam kata kita, bersamamu. Aku dan kamu menuliskan kisah kita, agar seluruh dunia tahu.

Akulah lelaki yang kelak menjadi imammu, membimbingmu, dan menuntunmu agar kita dapat menjalani kehidupan kita dengan indah. Sayang, keindahan itu pasti akan tercipta jika kita bisa saling mengerti, saling memahami, dan saling berbagi. Semua itu pasti bisa kita raih, karna dirimu menggenggam erat separuh jiwaku, sebagaimana aku memeluk hatimu.

Perempuanku, sementara aku mencarimu. Belajarlah banyak hal, belajarlah tentang cinta dan kasih sayang, belajarlah untuk mengerti dan memahami, belajarlah untuk memberi dan berbagi, karna kelak jika kamu sudah hidup bersamaku, kamu harus melakukan banyak hal, sayang. Kamu akan menjadi pelengkap bagi jiwaku, kamu adalah ibu dari anak-anakku, anak-anak yang lahir dari rahimmu, anak kita sayang.

Aku tidak mengharapkan dirimu menjadi seseorang yang sempurna, karna aku sadar, tak ada seorangpun yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan itu adalah ketika kita, aku dan kamu, dapat saling melengkapi, saat aku lemah aku ingin kau menjadi penguat bagiku. Saat aku jatuh terpuruk, aku ingin kau menjadi penyemangat bagiku, dan ketika aku bahagia, aku ingin kau selalu ada disampingku. Karna bahagiaku adalah bersamamu.

Berjanjilah sayang, berjanjilah kita akan selalu bersama. Walau kita berbeda, kita masih tetap bisa bersama seperti pelangi kan? Yang dapat menjadikan perbedaan itu indah. Kita bisa kan menjadi seperti senjanya hari yang indah dan teduh, menyejukkan. Tapi aku yakin, senja kita akan lebih indah daripada senjanya hari.

Perempuanku, yang kini tengah mengharapkan kedatanganku, sebagaimana aku berharap untuk berjumpa denganmu. Yakinlah aku pasti akan menemuimu pada waktu yang tepat.

 

                                                           Salam penuh Cinta

 

                                                               Aku, Lelakimu.

Hari Pahlawan, Bukan (sekedar) Peringatan

Seremonial, seremonial, seremonial. Lagi dan lagi, seremonial hanyalah seremonial tanpa penghayatan, panjiwaan, dan niat tulus untuk menjadi lebih baik.
Dalam satu tahun, rasanya banyak banget seremonial-seremonial di kalender nasional Republik Indonesia. Mulai dari Tahun Baru, Peringatan Kemerdekaan, Sampai pada hari ini, 10 November yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan hingga nanti masih ada lagi seremonial-seremonial lain sampai pada Hari Ibu, Desember nanti.
Setiap tahun kita pasti melewati Hari-hari Peringatan itu. Seremonial lagi, seremonial lagi, lantas apakah ini buruk? (tidak juga sih). Berarti baik dong? (Relatif).
Jadi kalau kita mau jujur sebenarnya Hari-hari peringatan ini ngefek apa sih buat kita? (mari sejenak kita renungkan).
Kemungkinan besar pasti ada efek positifnya (setidaknya pada hari peringatan tersebut berlangsung). Artinya tidak ada yang buruk dengan Hari peringatan ini, jika demikian adanya. Namun yang kurang tepat dari sebuah perayaan adalah ketika seremonial itu diadakan secara berlebih namun hanya seremonial, tidak memberi pengaruh positif untuk jangka waktu yang panjang.
Peringatan-peringatan ini (seharusnya) bisa menjadi pengingat atau semacam dorongan bagi kita untuk terus berusaha menjadi lebih baik dan untuk Menjadi Bangsa yang Besar.
Mari kita jadikan setiap hari peringatan, benar benar menjadi pengingat bagi kita untuk menjadi lebih baik.
Hari ini 10 November, bersama sama kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Mari kita kenang lagi jasa para pahlawan kemerdekaan, renungkan sejenak untuk apa mereka berjuang. Perjuangan mereka adalah untuk meraih kemerdekaan, untuk menjadikan negeri ini negeri yang bermatabat. Jadi mari kita menjadi bangsa yang bermartabat dengan terus belajar dan menjadi lebih baik, dengan mberi menfaat bagi sesama kita.

Selamat Hari Pahlawan. 10 November 2012

Menunggumu


Aku relakan kali ini untuk tidak menantikan matahari terbenam walau cuaca sangat cerah. Aku memilih untuk menghabiskan sisa hari ini di sebuah warung dimana tatapan kita pernah saling beradu.
“Bu, tolong buatkan kopi” pintaku pada pemilik warung dipinggir jalan itu.
Obrolan ringan bersama ibu warung memecah kebisuan diantara bising kendaraan yang lalu lalang.
Berpuluh bahkan beratus kata telah menguap bersama kepulan asap kopi hangat yang menemani sedari tadi.
Berkali kali aku menoleh pada arah yang mungkin dirimu akan datang, tapi setiap aku menoleh aku tidak mendapati dirimu berada disana.
Aku menunggumu dalam ketidakpastian, sama seperti yang kau lakukan beberapa hari yang lalu. Sungguh lucu, kau dan aku berada dalam dua ruang berbeda tersekat oleh ruang ruang yang entah.
Kepulan asap dari secangkir kopi yang sudah tidak penuh itupun sudah berhenti. Mungkin matahari yang tampak dari tepian pantai sana sudah separuhnya terbelah oleh lautan. Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku terus berdetak, hingga adzan maghrib dikumandangkan kau tak juga datang.
Aku hanya bisa tersenyum menutup hari, dan berharap engkau yang entah dimanapun tersenyum jua.
Dalam hal ini, tidak ada yang patut untuk dipersalahkan. Dan aku, akupun tidak menyalahkan siapapun dalam hal ini. Aku tidak menyalahkanmu, pun diriku sendiri karna kita memang tidak pernah punya kesepakatan atas ‘hal bodoh’ yang telah kita lakukan masing-masing.
Mungkin takdirlah yang kelak akan andil dalam pertemuan kita. Dan aku tidak pernah menyalahkan takdir. Karna takdir punya jalannya sendiri, dan aku punya cara tersendiri. Aku sadar, sepenuhnya sadar, bahwa rencana TUHAN lah yang pasti berlaku. Tapi aku tidak tahu rencana TUHAN, maka aku mengupayakan apa-apa yang baik bagiku dengan cara-cara yang baik.

84 Tahoen

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, Tanah Air Indonesia.

Kedua :
- Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, Bangsa Indonesia.

Ketiga :
- Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Djakarta, 28 Oktober 1928

Selamat Hari Blogger Nasional

Hari ini merupakan peringatan hari blogger Nasional ke-6 sejak dideklarasikan 6 Tahun lalu oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Mohammad Nuh.

Pendeklarasian 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional bertepatan dengan acara Pesta Blogger pada 2007 lalu, Acara tersebut merupakan sebuah acara gathering blogger nasional yang untuk pertama kalinya digelar.
Sebagai seorang blogger, saya memiliki harapan di hari blogger nasional ini. Harapan ini sekaligus merupakan tantangan bagi para blogger (wabil khusus diri saya sendiri) untuk menuliskan konten-konten yang positif dan bermanfaat.
Harapan saya tidak terlalu berlebihan kan…? hanya butuh pemikiran dan kemauan untuk mewujudkan harapan itu. Pemikiran untuk dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi para pembaca yang secara tidak langsung mengedukasi bangsa ini melalui tulisan-tulisan yang kita hasilkan, dengan cara-cara kita sendiri (baca=blogger) karena sejatinya blogger adalah penulis. Seseorang yang mengolah sebuah photoblog pun pasti akan selalu menulisakan sesuatu untuk memberi keterangan-keterangan pada setiap photo yang di tampilkan dalam blognya itu.
Perkembangan teknologi informasi dan persaingan yang semakin ketat seiring berjalannya waktu, internet kian menawarkan bermacam layanan. Layanan blog gratisan yang semula hanya di dominasi oleh Blogspot dan WordPress kini semakin beragam bahkan kini layanan blog lokal juga sudah banyak.

Blog dan Social Media.

Dulu, ketika awal-awal populernya blog. Para blogger menyuarakan bahwa “blog bukanlah Tren Sesa(a)t”. Saya berharap demikian (ini jadi satu *lagi* harapan saya di Hari Blogger Nasional ini) :-) dan ini sekaligus menjadi tantangan (lagi) buat para Blogger (wabil khusus diri saya sendiri) untuk membenarkan dan mewujudkan pernyataan dan harapan ini :-) .
Seperti yang sudah saya sebutkan bahwa internet kian menawarkan bermacam layanan dan layanan yang tengah populer saat ini adalah Jejaring Sosial yang di dominasi oleh facebook dan twitter. Lalu bagaimana dengan nasib blog dengan adanya layanan baru ini…?
Dengan munculnya layanan Sosial Media ini (saharusnya) blog tetap eksis karna blog dan layanan sosial media yang ada saat ini punya karakteristik yang berbeda.

Lantas Mesti Nge-Blog atau ber-Sosial Media?

Separti yang sudah saya sebutkan tadi bahwa blog dan sosial media punya karakteristik yang berbeda. Dan saya yakin bahwa para blogger bukanlah orang-orang yang (sangat) Pro dengan status quo, dan bahwa kita adalah orang-orang yang terbuka dan selalu welcome dengan hal-hal baru maka layanan baru yang ada dapat kita manfaatkan juga.
Maka ketika saya ditanya pilih mana antara blog atau media sosial? maka jawabannya adalah tidak ada pilihan, saya menggunakan media sosial dan saya tetap seorang blogger :-) .
Sejatinya blog, media sosial dan internet serta seluruh konten yang ada didalamnya hanyalah objek dan kita punya kendali penuh atas nya.

Saya rasa cukup sekian celotehan dari saya di Hari Blogger Nasional ini. Seemoga harapan saya yang tidak muluk-muluk ini dapat bersama kita wujudkan.

Sahabats Blogger, Apa harapan kalian di Hari Blogger Nasional Ini?

Dia Takkan Tumbang Oleh Topan

Disuatu pagi yang cerah, diteras sebuah rumah (baca=kontrakan) aku duduk dibawah hangatnya sinar matahari yang mulai meninggi. Tenang, hangat, dan sanagat nikmat rasanya menikmatin pagi dengan caara seperti ini, ditambah lagi dengan berteman segelas the hangat yang perlahan membasahi tenggorokan, sungguh nikmat.


Aku meamandang pada rumput-rumput liar yang tumbuh dengan suburnya. Meski tak diinginkan, ia selalu saja muncul lagi dan lagi. Kemudian aku berfikir, ingin rassanya memiliki semangat yang tangguh seperti rumput-rumput liar itu dalam menghadapi dan menjalani kehidupan. Caranya hidup benar-benar memberikan pelajaran berharga jika kita kita mau berfikir tentangnya.
Meski keberadaan nya tidak banyak yang menginginkan, tapi dia selalu tetap dapat tumbuh dan bertaha hidup didalam siatuasi apapun. Bahkan ketika tumbuhan lain sangat sulit untuk bertahan hidup, dia masih bisa. Dimana dia tumbuh, jarang sekali dia meninggi, sehingga bila tertiup angin dia akan tampak indah, sehingga topan pun tak mampu untuk buatnya tumbang.
Memang keberadaan nya adalah ‘pengganggu’ bagi tanaman pangan milik kita. Tapi Jika kita mau melihatnya dari sisi positifnya, sesungguhnya keberadaannya member manfaat. Satu diantaranya adalah ketika kita (harus) meniadakannya, dia dapat dijadikan sebagai pakan begi binatang ternak.
Terkadang kita salah menilai sesuatu hanya dari melihat ppenampilannya saja, tanpa memperhatikannya (melihat, mempelajari, dan berfikir). Sungguh suatu perbedaan yang besar antara melihat dan memperhatikan. Oleh karenanya kita harus memiulai saat ini juga untuk selalu memperhatikan segala sesuatu yang ada. Bukan hanya sekedar melihat. Kita harus merubah cara kita melihat, menjadi cara memperhatikan sesuatu. Begitulah seharusnya kita belajar.

Kebebasan Itu,


Lakukanlah apapun sesuka hatimu, asalkan tidak mengganggu dan mengusik ketentraman pihak lain, serta tidak merugikan pihak lain, Lakukanlah apapun sesuka hatimu selama engkau mau dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatanmu, baik terhadap makhluk maupun dihadapan TUHAN Semesta Alam.

Saatnya beralih pada perangkat baru

Dunia fotografi ternyata asik juga dilakoni sebagai hobi, bahkan sudah banyak orang yang bisa punya penghasilan hanya dari fotografi. Tapi untuk saya belum sampai kesitu (mudah-mudahan suatu saat nanti :-) ).
Yang pasti banyak hal yang bisa kita lakukan dengan kamera. Kita bisa mengabadikan moment-moment indah dalam hidup, menyimpan panorama alam yang begitu indah, mengabadikan sunset dikala senja, dan masih banyak hal yang dapat kita alakukan dengan kamera.
Jika selama ini saya bergelut dengan kamera ponsel (yang nyatanya cukup apik juga untuk megabadikan view-view yang indah dari berbagai penjuru negeri) ini contohnya, , tapi lama kelaman kok ya pingin juga ya untuk Upgrade kamera, hehehe…
Setelah melalui pergulatan hebat yang berkemelut dalam jiwa (halah…), maka saya memutuskan untuk memiliki sebuah kamera digital, yang kemampuannya sedikit lebih baik ketimbvang ponsel. Dan mulailah saya berkelana alias Googling untuk cari kamera saku yang pas buat saya, kalau DSLR kayaknya belum pas (budget nya) hehehe. Dan ternyata ada lagi satu jenis kamera yang punya kemampuan mendekati DSLR dan juga gak terlalu ribet dalam penggunaannya, namanya kamera PROSUMER yang punya definisi seperti dituliska di SentraDigital.com sebagai berikut:

Istilah “prosumer” merupakan gabungan PROfesional dan conSUMER. Bila sebuah camera disebut sebagai model prosumer biasanya ditandai kemampuan point and shoot tapi memiliki fitur lebih canggih dibanding pocket camera antara lain seperti dimilikinya kemampuan pemakaian secara manual untuk pengaturan exposure, ISO, tersedianya format RAW image capture. Prosumer camera ditargetkan untuk konsumen yang antusias pada fotografi.

Sepertinya kamera Prosumer ini cocok buat saya, maka mulailah saya mencari- cari kamera prosumer yang pas buat saya. Setelah mencari-cari, mencocok-cocokkan dan membanding-bandingkan, maka pilihan dijatuhkan pada,,,,,, jeng jeng jeng…

Kamera Pilihan

Fujifilm Finepix S2980. Bagaimana-bagaimananya kamera ini, nanti saya ulas karena kameranya juga baru dipesan. belum diterima (saya belinya online).
Semoga dengan perangkat baru ini nanti akan memberikan pengalaman baru dalam jeprat-jepret :-) . Kalo kamera pilihan kamu apa sobats?

Romantisme Kala Senja di Laut Karimun Jawa

Romantisme Kala Senja di Laut Karimun Jawa Romantisme Kala Senja di Laut Karimun Jawa

Saya menuju ke Kepulauan Karimun Jawa ini dengan menumpang Kapal Cepat KMP Kartini dari Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang selama kurang lebih 3 Jam.
Di Kepulauan Karimun Jawa yang termasuk dalam administrasi Kabupaten Jepara Jawa Tengah ini, saya menginap di Wisma Apung. Sebuah penginapan yang ada diatas permukaan laut, dengan view underwater nya adalah penangkaran Hiu dan Terumbu Karang.
Kegiatan yang saya dan teman-teman saya lakukan pada sinag harinya adalah berkeliling Pulau dan Snorkling.
Didalam foto ini adalah Daniel dan istrinya yang tengah menikmati Honeymoon di Kepulauan Karimun Jawa. Foto ini diambil dalam perjalanan kami dari berkeliling pulau dan snorkling menuju Wisma Apung. Kami dapat memandang Matahari terbenam di sepanjang perjalanan menuju Wisma Apung.

Suatu Senja di Banten

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Berkapasistas 300 Mega Watt (MW) ini berada di Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Bangunan yang diresmikan pada Kamis, 28 Januari 2010 silam oleh Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono ini terletak di tepian pantai.
Foto ini diambil pada sore hari dengan membelakangi matahari dari Penenahan Ombak di PLTU tersebut.

Dirgahayu Negeriku

Dirgahayu Indonesia

Dirgahayu Negeriku INDONESIA
Semoga tetap Jaya, Berkibarlah terus Merah Putih ku Di Angkasa Raya.
Teruslah berkarya Bangsa INDONESIA.

Ya Rabb,,, Anugerahilah kepada kami Bangsa INDONESIA para pemimpin yang adil, bertaqwa, serta berakhlaq Mulia,,,
Aamiin…..

Sebuah harapan saya yang sangat sederhana di hari kemerdekaan sebuah negeri, dimana aku dilahirkan, tumbuh dan berkembang. Sebuah negeri yang sejatinya Gemahripah Loh Jinawi yang kalu menurut kamus besar berarti “tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya”.
Namun Gemahripah Loh Jinawi yang memiliki arti seperti yang sudah saya tuliskan, sebenarnya adalah perpaduan dari beberapa hal, yang salah satunya adalah “Sanagat Subur Tanahnya” dan kita sudah punya itu. Apakah hanya dengan tanah yang subur dapat menjadikan kita tenteram dan makmur? tentu saja tidak, kan…. (iya, kan…)
Sejatinya tanah yang subur itu tidak akn memberikan manfaat apapun kecuali ada sentuhan (usaha) kita untuk menjadikannya bermanfaat. Hal ini sejalan dengan Firman ALLAH yang punya arti “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS-13:11).
Sudah Cukup? (belum). Kita bicara tentang negeri,sebuah negara. Bagaimana sebuah sebuah negara bisa Tenteram dan Makmur?. Tentu negara tersebut harus punya pemimpin yang Adil, Bertaqwa, Serta Ber Akhlaq Mulia
Apa sih adil?…. Ya, keadilan termaktub dalam sila ke-5 Pancasila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dalam pandangan saya ADIL itu bukan sama rata. Adil itu Menempatkan Sesuatu Pada Tempatnya.
“Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa” Merupakan salah satu persyaratan yang selalu ada dalam syarat untuk menjadi entah itu PNS, Polisi, TNI, atau sebagai calon penguasa pemimpin negeri ini. Tapi sayangnya itu semua hanyalah teks yang hanya jadi pemantas saja. Jika diterapkan dengan sungguh-sungguh, betapa indahnya.
Rakyat akan merasa Tenteram jika dipimmpin oleh pemimpin yang berakhlak Mulia. Tidak ada amarah, kebencian, dendam, dan sakit hati kkepada poara petinggi negeri.
Wallahua’lam.

==============================
sumber gambar: internet&koleksi pribadi. Processed with Photoshop

Tegarlah Adinda [Part II]

“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
Begitulah kemudian waktu yang kami lalui, selalu penuh petentangan. Aku tak ingin dia menyesal kemudian, karena telah mengecewakan orang tuanya demi egonya. Aku tahu dia sakit, tapi aku berharap rasa sakitnya dapat mendewasakannya.
Sudah beberapa minggu aku tidak membuat ponselnya berdering, walau hanya dengan sebuah pesan. Sms yang dia tujukan untukku, sering juga aku abaikan. Jika terpaksa harus bertemu, aku tak mau berlama-lama bersama dia.
Hal itu terus aku lakukan sampai waktu menempatkan aku diantara banyak orang, semua berpakaian rapih seperti halnya aku. Aku mengenal sebagian dari mereka, terutama sosok wanita yang mengenakan pakaian adat jawa. Wanita yang duduk bersebelahan dengan lelaki yang juga mengenakan pakaian adat jawa di hadapan kami. Wanita itu adalah dia, ya, dia. Hari itu adalah hari pernikahannya.
Pada hari itu, dia, raganya duduk di disinggasana bersama suaminya, tetapi tidak hati dan pikirannya. Sesekali matanya menatapku dengan senyuman yang tertahan, pandangannya mengatakan “seharusnya kamu yang duduk disini bersamaku, mas”
“Mengertilah, seorang lelaki sejati tidak akan meminang seorang wanita yang telah dipinang oleh lelaki lain”. Aku mencoba menegaskan kembali prinsip yang selama ini aku anut, melalui tatapan mataku dengan seulas senyuman.
Pandangan kami bertemu pada satu titik. Titik itu seolah menjadi satu ruang yang hening, didalam ruang itu hanya ada aku dan dia, saling berbicara.
“Aku gak bisa ngelupain mas”
“Terimalah dengan ikhlas, semoga kamu bisa bahagia bersama dia, suamimu. Bukan aku”
Aku tahu dia belum bisa untuk sepenuhnya menerima kenyataan ini. Tapi dia akan berusaha, dia mulai mengumpulkan energi positif yang tercecer. Dia sedang mencoba untuk terlihat tegar dan bahagia di hadapanku, juga di hadapan semua orang. Aku dapat melihat itu dari matanya, mata yang sembab dan agak memerah. Mata yang terus menangis dan hampir tidak tidur semalam sebelum hari pernikahannya.
Malam itu adalah kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya yang tulus mencintaiku, namun terluka oleh waktu. Walau terpisah jarak dan keadaan, namun aku tak ingin menyiakan waktu yang hanya tinggal sebentar saja. Karna pada hari berikutnya, dia adalah miliknya, suaminya.
“Halo” Suara lirih menyapa dari ujung sana dan menyusup melalui speaker ponselku yang men-dial ponselnya beberapa detik sebelumnya.
“Halo, lagi ngapa dek?, Sudah siap kan buat besok?” pertanyaan basi yang seharusnya tidak aku lontarkan. Karna sebenarnya aku tahu dari suaranya, dia sedang menangis malam itu.
“Aku lagi nangis mas”
“Menangislah, kalo itu bisa membuatmu lega” Aku tidak melarang dia untuk menangis, pun tidak memintanya untuk berhenti menangis.
“Sudah siap kan buat besok?” kembali aku bertanya dengan nada yang datar.
“Enggak tau, mas. Mungkin aku siap kalo mas gak ada didepanku saat akad nikah, mas”
“Baiklah, besok mas gak akan dateng”
“Enggak mas, mas harus dateng besok. Dedek kuat kok, Dedek bisa”
“Yakin?”
“Insya Allah, dedek bisa, mas. Mas do’ain aja ya buat aku. Aku pengen jadi adek Mas yang tegar!. Mas, janji besok dateng ya, pas akad nikah dedek”. Akhirnya dia mengatakan itu meski dengan terbata, dia tengah bangkit dari keterpurukan. Dan itu membuat aku tersenyum karna dia telah berusaha untuk menerima kenyataan ini, kenyataan bahwa dia adalah calon istrinya, dan aku adalah sahabatnya dan dia berusaha menganggap aku sebagi kakaknya, bukan calon suaminya.
“Do’a mas bersamamu” aku terus menyemangatinya. “Insya Allah besok, mas ada”
“Ma’afin dedek mas, ma’af dedek  udah mencintai mas. Dedek bakal berusaha untuk ngilangin rasa cinta ini, sampe akhirnya Tuhan gak ngijinin rasa ini bersemayam di hati dedek”.
“Ya, aku tau kok,,,, tapi rasanya gak perlu untuk ngilangin rasa cinta itu. Yang perlu, kamu harus mencintai dengan benar. Mas yakin, kamu gak akan sakit karna cinta”.
“…”
“Mencintai dengan benar itu, pertama mencintai Allah melebihi apapun, kemudian mencintai Rasulullah dan para pewarisnya, mencintai ibumu, mencintai bapakmu, serta keluargamu. Barulah mencintai yang lain”
“Mas, bisa ngomong aku gak akan sakit karna cinta. Mas gak rasain apa yang aku rasain kan?, mas,…”.
“Mas tau apa yang kamu rasain sekarang. Karna mas juga pernah ngerasain apa yang kamu rasain sekarang. Kemudian, mas bisa belajar untuk mencintai dengan benar”
“Mas pernah rasain apa yang aku rasain sekarang?’ dan mas bisa lewati semua?. Ku yakin, Aku juga bisa!
“Optimis! Kamu pasti bisa. Makna cinta itu luas, sehingga kadang sulit bagi kita untuk memahaminya. Maka tempatkanlah ia dimana seharusnya ia berada”
“Ya, makasih ya mas, udah mau kasih semangat buat aku untuk bisa lewati semua ini. Seharusnya aku nyadar, orang yang ada dalam hatiku bukan jodohku”.
“Maka berilah ruang untuk yang lain. Senyum dong” Walau aku tidak bisa melihat senyumnya, tapi aku yakin senyuman itu akan memberinya energi positif untuk menghadapi kenyataan ini.
“Ya, pengennya senyum mas. Udah deh aku gak mau nangis lagi”.
Dan aku baru bisa melihat senyumnya di hari berikutnya walau masih tertahan.

 

====================

sumber gambar: metrotvnews.com

Bagaimana Proses Kreatif itu Berlangsung?

Seperti yang pernah saya tuliskan di status facebook saya, bahwa kreatif adalah sebuah proses penemuan dan eksekusi, bukan sesuatu yang siap saji.

Tapi kalo menurut Wikipedia, “Daya cipta atau kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau anggitan (concept) baru, atau hubungan baru antara gagasan dan anggitan yang sudah ada.”

Ketika duduk di suatu ruang, untuk kesekian kalinya saya harus menyaksikan besi-besi yang teronggok di sudut ruangan dan menyandang predikat “tidak bermanfaat”. Dan untuk ke sekian kalinya pula saya berfikir mau diapakan besi-besi itu?

Ya, berfikir. Itu adalah salah satu proses kreatif berlangsung. Tapi itu bukan permulaan dari proses kreatif. Proses kreatif di mulai dari panca indera kita, proses kreatif dimulai saat kita melihat sesuatu, atau saat kita mendengar, bahkan apa yang kita rasakanpun bisa menjadi awal dari proses kreatif berlangsung. Sebagai contoh, ketika saya melihat besi-besi yang menganggur, kemudian saya berpikir harus diapakan? disinilah proses kreatif tengah berlangsung.

Apakah cukup hanya dengan berpikir? Tentu tidak. Seperti yang sudah saya ungkapkan kreatif merupakan sebuah proses penemuan dan eksekusi. Sedangkan apa yang ditangkap oleh panca indera dan diproses oleh otak kita barulah pada tahap penemuan, dan penemuan tersebut harus menghasilkan sesuatu, untuk itu di perlukan action. Dan saya sudah membuktikannya.

Bagaimana agar proses kreatif dapat menghasilkan sesuatu? Tetapkan tujuan. Kegiatan apapun yang melalui sebuah proses pasti pada akhirnya akan berlabuh pada satu tujuan akhir. Tetapkan apa tujuan dari penemuan kita. Apakah sebuah puisi, cerpen, atau bahkan sebuah buku. Dalam hal penemuan saya terhadap besi-besi yang menganggur adalah lemari atau rak buku.

Tanpa banyak berangan angan, saya langsung memberikan sentuhan-sentuhan terhadap besi-besi yang menganggur tersebut dengan satu tujuan. Saya tidak pernah berpikir sebelumnya mengenai bagaimana saya akan mengubahnya. Tapi secara ajaib cara-cara mengenai bagai mana menjadikanya sesuatu yang bermanfaat bermunculan, sehingga sangat mudah bagi saya untuk mengkreasikan tujuan saya, beragam ide segar terus berdatangan.

Seolah-olah ini adalah bukti dari Janji ALLAH yang ada dalam Al-Qur’an yang artinya “Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka merubahnya (dengan tangan mereka sendiri)”

Jadi intinya proses kreatif itu adalah suatu proses penciptaan hal baru melalui tindakan nyata yang berdasarkan pada proses pengolahan informasi yang bersumber dari panca indera. Inti dari intinya,,,, kreatif itu kombinasi dari pemikiran dan tindakan. THINK and ACTION, Think and Action.
:-)

Tegarlah Adinda [Part I]

Aku melihat dia merasa begitu nyaman bersamaku, begitu juga aku selalu menjadi diri sendiri ketika bersamanya.
Meski aku dan dia memiliki kepribadian yang berbeda, pemikiran yang berbeda, pandangan yang berbeda. Bahkan aku dan dia menempatkan cinta pada perspektif yang berbeda.
Dan hari yang terus berganti, minggu yang berlalu, dan waktu yang terus berjalan bersama aku dan dia, membuat hubungan kami semakin dekat dan sangat erat, hingga meski jarak memisahkan aku dan dia namun waktu tak lagi mampu memisahkan hatiku dan hatinya.
Akulah orang yang akan membuatnya tersenyum ketika dia sedih, hingga dia bisa tertawa bahagia. Aku adalah teman ketika dia merasa sepi. Aku…… Aku adalah orang yang beruntung telah mengenal dia.
Sedangkan dia, dia adalah orang yang selalu “mengganggu” tidurku ketika fajar menantikan mentari. Dialah yang selalu mengingatkanku untuk “Menghadap” ketika tiba masanya. Dia…… Dan dialah wanita yang memberi perhatian padaku, bahkan melebihi pacarku.
Awalnya aku dan dia hanya berbalas sms untuk saling menyapa. Kemudian sering aku menelponnya, terkadang juga dia yang rela menghubungiku hanya untuk berbalas canda, hingga aku dan dia dapat tertawa bersama, meski aku dan dia berada di tempat yang berbeda.
Ternyata perbedaan bisa menjadi terlalu indah, seperti halnya aku dan dia. Tapi perbedaan juga bisa menggalaukan dua hati yang saling berpadu, menyakiti hati yang sedang berbunga, ketika perbedaan itu berada pada waktu yang tak seharusnya.
Seperti saat hatinya di kuasai ego dan perasaan, namun aku mempertahankan prinsip dan logika. Saat dia menginginkan aku untuk menjadi lebih dari sekedar teman, atau sahabat, namun aku tak mengijinkan karena waktu dan keadaan.
Saat itu percakapanku dan dia, tak lagi sekedar tegur sapa. Namun hati dan seisinya tumpah didalamnya, hingga percakapanku dan dia menjadi penuh makna, karna tak hanya sekedar canda dan tawa namun juga luka dan air mata.
“Mas, gimana mas ama pacar mas?” Sering pertanyaan itu dia lontarkan di sela percakapan kami.
“Gak ada masalah, kita baik-baik aja kok” Itu jawaban yang selalu aku berikan, karena tak mau memberinya harapan. Agar dia tetap mencintaiku sebagai seorang sahabat. Hingga hubunganku dan dia tetap indah dan penuh warna seperti pelangi. Dan hubungannya dengan tunangannya, tetap baik-baik saja.
“Gimana kabar mamasnya dek?, baik-baik aja kan?, masih sering telpon kan?”, demikian, kadang aku terpancing untuk menanyakan hubungan dia dan tunangannya yang juga terpisah jarak, sebagaimana aku dan dia.
Saat itulah dia mulai bermanja, mencurahkan segala isi hatinya, hingga aku dan dia harus bermain dengan ego, memperdebatkan realita, dan aku tetap bertahan dengan prinsip. Aku “dituntut” untuk lebih dewasa, membimbingnya, dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Mungkin karena kalian jauh, dalam hubungan, kita harus saling percaya, dan satu lagi, keep connecting. Percayalah, ini cuma ujian buat hubungan kalian, untuk mendewasakan kalian. Mas yakin, kalian bisa lewatin ini semua,” Begitu aku coba meyakinkan dia, bahwa semua hal negatif yang dia utarakan tentang hubungannnya dengan tunangannya hanyalah sekedar kekhawatiran belaka. Kemudian dia dapat menganggapku hanyalah sahabatnya.
Namun ego dan perasaannya yang berskongkol telah menancapkan rasa cinta yang begitu dalam di hatinya bahkan mampu mengalahkan logika dan menentang realita.
“Tau gak sih mas?, aku tuh sakit kalo lihat mas ama pacar mas”.
“Kita gak akan sakit, kalo kita mencintai dengan benar”.
“Aku sudah menitipkan cinta ini pada seseorang, mas”.
Aku paham, yang dia maksud dengan ‘seseorang’ itu adalah aku.
“Mas sudah putus ama pacar mas, dek…”, mungkin kalimat itu yang berharap dia dengar dari mulutku.
“Tapi sayang, kamu menitipkannya tidak pada orang yang tepat”, entah dia mengerti atau tidak, dengan maksudku.
… [continued]

===================================
sumber gambar: webku76.blogspot.com